Klik Play Untuk Menyaksikan Online TV Nusantara

FOOD ESTATE, PERCAYAKAN KE SWASTA

ADMIN MEDCOM DPP GAAS
0


 

Sumber : https://bjafarm.com/wordpress/food-estate-percayakan-ke-swasta/


_Ilmu hikmah_


*FOOD ESTATE, PERCAYAKAN KE SWASTA


Wayan Supadno.



" Saya pertama kali daftar dari swasta. Jika pemerintah punya progja cetak sawah skala luas dalam satu kawasan, biasa disebut food estate. Sepanjang boleh menentukan lokasinya agar tepat agroklimatnya sehingga harga pokok produksi (HPP) cetak sawah per hektarnya jadi rendah. "


Agroklimat penting agar bisa berhasil tidak merusak nama baik saya. Yang pernah dapat Penghargaan Petani Inovatif Tingkat Nasional tahun 2016, saat Hari Pangan Sedunia. Karena saya sukses cetak sawah 21 hektar lahan tandus milik pengembang perumahan belum terpakai di Jonggol Bogor Jadi sehat subur, panen padi bisa 7,8 ton GKP/ha.


Saya memberanikan diri mau tampil berani cetak sawah skala luas. Karena punya pengalaman panjang cetak kebun durian ratusan hektar, cetak kebun di atas 2.000 hektar. Dengan membuat jalan dan irigasi puluhan kilometer dan puluhan jembatan. Swakarsa mandiri. Nol tanpa APBN/APBD. Dihitung dulu, estimasi cashflownya.


Jika HPP Cetak Sawah rendah, misal hanya Rp 100 juta/hektar. Maka sangat feasible dan bankable jika didistribusikan ke masyarakat petani padi. Dengan pola persis kredit kepemilikan kebun sawit plasma. Atau KPR Rumah. Diangsur dari hasilnya sekitar 30% dari labanya. 


Sehingga cukup 2,5 tahun saja bisa lunas. Konsep ini jika dijalankan akan jadi solusi ganda. Beras swasembada dan petani sejahtera, karena sawahnya bisa minimal 2 ha/KK. Sekaligus solusi atas makin menyempit luas lahan sawah kita 110.000 hektar/tahun (Sensus Pertanian Terakhir). 


Juga jawaban atas sulitnya membuang predikat petani pangan penerima raskin terbanyak, karena sentra kemiskinan terbanyak ada di sana. Dampak langsung dari indeks kepemilikan sawah hanya 0,3 ha/KK sebanyak 14 juta KK (Sensus Pertanian Terakhir). Jika petani padi mau sejahtera, sawahnya harus luas.


Harga sawah dengan irigasi teknis bisa menanam padi 2 kali setahun di Pulau Jawa dan Bali, saat ini minimal Rp 1 miliar/hektar. Dengan produksi beras sekitar 3 ton/ha/musim atau 6 ton/ha/tahun. Masih ada jeda waktu 1 musim biasanya oleh petani ditanami hortikultura atau jagung dan kedelai.


Anggaran cetak sawah dalam kawasan skala luas ratusan hingga ribuan hektar di luar Jawa misal di Kalimantan. Saat ini prediksi saya hanya Rp 100 juta/ha. Dengan potensi hasil beras dan tanaman sela lainnya sama dengan di Jawa. Artinya hanya 10% dari anggaran beli sawah di Jawa atau Bali.


Membangun food estate bukan hal mudah. Bukan asal bisa menebang hutan belantara saja. Tapi butuh kajian pasti agroklimatnya. Ada sumber air mengalir sepanjang tahun di hulu bisa dibendung, kaya humus asam humat hingga kadar C Organiknya 4%, pH netral. Harus dekat perkampungan petani padi atau disiapkan untuk perumahan petani padi. Ada sawah tanpa petani, sia - sia belaka.


Sehingga flora fauna dan strain mikroba non patogen sahabat petani mampu berbiak massal dengan cepat. Jika itu sudah terpenuhi pasti harga pokok produksi (HPP) gabah bisa murah, dijual murah pun petani dapat laba besar dan betah. Sekali lagi, kata kunci tepat agroklimatnya dan pastikan hilirisasi inovasi remediasi lahannya.


Bendungan, jalan dan irigasi hal mutlak. Mahal tidaknya investasi pada poin ini terletak pada hasil kajian lapangan agroklimatnya. Bukan asal tahu hafal teori buku saja. Harus pernah berbuat berulang kali dan gagalnya juga berulang kali. Sehingga punya ilmu hikmah atas pengalamannya sendiri. Tinemune ilmu kanti laku, dapatnya ilmu karena mempraktikkan.


Polanya percayakan ke swasta yang sudah terlatih cetak sawah dan kebun. Mestinya pemerintah mawas diri dengan berulang kali gagal cetak sawah. Di banyak tempat misal Merauke, Sumut dan Kalteng. Ironisnya habis triliunan memakai dana APBN dari keringat rakyat. Tapi manfaatnya ? Jadi buah bibir dunia. Duuuh, apakah kita benar - benar tidak mampu ?



Salam 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)
CEO INDONESIA NEWS