Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/19/bumn-mawas-diri/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Empiris.
Sungguh jika kebun sawit saya tanpa integrasi dengan sapi. Pasti hampir remis, non laba. Sejak harga pupuk kimia naik tajam, tapi harga TBS hanya sekitaran Rp 2.000/kg di pabrik kelapa sawit (PKS). Ini sangat berat bagi petani sawit Indonesia.
Sekalipun harga TBS di Malaysia dan Thailand hampir selisih Rp 1.000/kg, lebih mahal mereka. Karena kalau hanya dengan NPK kimia harga pokok produksi (HPP) Rp 1.800/kg. Praktis laba petani sawit hanya sekitar Rp 200/kg TBS. Ini fakta dan tantangan.
Alternatif solusi konkret inovatifnya. Harus integrasi, sapi di kebun sawit. Selain meniadakan herbisida, mengurangi pupuk kimia NPK hingga 75% juga meminimalkan impor sapi dan daging kerbau sapi yang jumlahnya setara 1,4 juta ekor/tahun.
Pengalaman saya pribadi, dengan sapi 700 ekor cukup dikelola oleh 10 orang saja. Indeks 70 ekor/orang. Parsial digembalakan di kebun sawit yang breeding/pembibitan. Yang penggemukan/fattening dikandangkan secara intensif. Agar HPP rendah.
Pola pakannya, 700 ekor sapi ditanamkan rumput hijauan kaya protein kasar 16% bernama Gama Umami dari UGM yang potensinya bisa 700 ton/ha/tahun. Sedekat mungkin dengan kandang agar rendah ongkos kirim. Sehingga 700 ekor cukup dengan 12 hektar saja.
Guna meningkatkan kadar protein kasarnya pada pakan sapi. Setiap kali truk mengantar TBS ke pabrik. Dari pada pulangnya kosong, maka saya wajibkan muat bungkil atau solid sawit pakan sapi atau tankos untuk penyubur lahan yang ramah lingkungan berkelanjutan.
Implikasinya kesejahteraan pekerja sopir akan naik karena dapat premi bonus. Hitungan jasa per kg. Agar lahir etos kerja tinggi. Bisa untuk angsuran KPR rumah atau sepeda motornya. Selain itu pakan sapi bisa murah meriah, mutu hebat ilmiah.
Implikasi lain lagi. Jika 1 ha sawit dilayani oleh 5 ekor sapi indukan maka setara dapat minimal 20 ton feses/ha/tahun. Karena 1 ekor bisa dapat 10 s/d 12 kali lipat bobotnya. Jika 400 kg bobot hidup dapat 4.000 kg kering angin/tahun. Kadar punya C Organik tinggi jadi media biak mikroba.
Lalu diperkaya biang mikroba disemprot dengan produk pabrik pupuk milik saya sendiri yaitu " Bio Extrim dan Hormax " mengandung ;
1. Penambat N yaitu Azospirillum, Azotobacter, Rhizobium.
2. Melarutkan P dan K sekaligus Biopestisida yaitu Pseudomonas, Bacillus, Trichoderma.
Maka pupuk NPK kimia hanya 25% dari lazimnya. Rumput liar gulma dimakan sapi, tanpa herbisida biaya tinggi. Artinya biaya produksi makin rendah, sebaliknya jumlah produksi justru makin meningkat tajam karena lahan makin subur berkelanjutan.
Sisi lain lagi, sapinya beranak pinak. Empirisnya dari 100 indukan yang beranak 70 ekor pedet/tahun. Begitu juga yang penggemukan tanpa konsentrat pabrikan yang terkenal mahal. Tapi bisa tambah 0,8 kg/ekor/hari Sapi BX dan 1,2 kg/ekor/hari Sapi Limosin.
BUMN ?
Perusahaan milik negara. Artinya milik kita. Milik saya juga. Selama ini hanya sibuk impor sapi hidup, daging sapi dan daging kerbau. Padahal ada PT Berdikari milik BUMN, yang tupoksinya bertanggung jawab atas penyediaan pangan fokusnya protein hewani. Ironis.
Harusnya BUMN jadi suri tauladan swasembada sapi, tapi faktanya justru terdepan dalam kuota impor. Padahal BUMN juga masih punya PTPN Sawit saja 650.000 hektar, belum lagi perkebunan non sawit. Hal sangat mudah asal mau saja. Berpikir, Dibahas dan Dipraktikkan.
Cukup hanya ATP (amati, tiru, plek) atau ATM (amati, tiru, modifikasi) milik saya di Pangkalan Bun Kalteng. Jika itu dirasa teramat sulit. Bisa bekerja sama dengan Praktisi yang banyak empirisnya. Yang punya integritas tinggi membangun negeri.
BUMN juga hendaknya tahu diri bahwa PTPN selama ini banyak menelantarkan lahan suburnya. Puluhan ribu hektar. Malu. Harus diberdayakan. Jadi pemantik tumbuhnya ekonomi bangsa kita ini. Jadi suri tauladan, solusi konkret lapangan.
Sekali lagi, BUMN hendaknya bukan justru jadi pemimpin impor daging kerbau, menjadikan sebab banyak peternak pada bangkrut. Kembalikan ke diri sendiri jika jadi peternak.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
