Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/16/empiris-bersinergi-dengan-para-ahli/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Startup (perintis usaha) di Indonesia jumlahnya 2.400 an orang. Terbanyak ke 6 di dunia, hingga mengalahkan Jerman dan Perancis. Sayangnya 99% gagal bangkrut. Korban PHK ribuan orang, jadi pengangguran lagi. Teramat disayangkan.
Kalau saya kaji sebab utamanya selain jam terbangnya belum cukup. Karena kurang bersinergi dengan para ahli. Yang berdampak harga pokok produksi (HPP) terlalu tinggi. Lalu tidak kompetitif, kalah bersaing. Mengganggu cashflow, gagal bangkrut.
Berikut ini contoh konkret karena bersinergi dengan para peneliti, proses hilirisasi inovasi. Yang sangat membantu proses tumbuh kembangnya membangun usaha. Sangat bermanfaat diambil ilmu hikmah pembelajaran kawula muda merintis usaha ;
1. Ternak Ruminansia.
Hijauan pakan ternak, kalau hanya rumput gajah biasa modal Rp 30 juta/ha. Hanya dapat 100 ton/ha/tahun dengan kadar protein kasar hanya 4%, setara 4 ton protein/ha/tahun. Artinya indeks protein didapat Rp 30 juta : 4 ton = Rp 7.500/kg protein kasarnya.
Hijauan pakan ternak Gama Umami karya Prof. Umami di UGM Yogyakarta. Modal Rp 30 juta/ha/tahun. Dapat 700 ton dengan kadar protein kasar 16%, setara 116 ton/ha/tahun. Indeks Rp 258/kg protein kasar. Sangat menekan HPP, biaya produksi ternak 70% dari pakan.
Otomatis berdampak serius jika kurun waktu setahun. Apalagi jika populasi sapi makin banyak. Biaya tumbuh kembang sapi jika fattening dan berbiaknya sapi jika breeding. Terlebih jika dilihat dari aspek " cost and benefit analysis " nya. Tentu berdampak pada daya saing.
2. Kebun Sawit.
Jika memakai benih ilegal non hasil inovasi. Paling hanya dapat TBS 16 ton/ha/tahun. Rendemen CPO hanya 18%. Artinya hanya dapat 2,8 ton CPO/ha/tahun. Jika biaya Rp 30 juta/ha/tahun, indeks Rp 10.700/kg. Jika harga CPO di bawah Rp 10.700/kg, mulai rugi.
Jika memakai benih legal inovasi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Umur 12 tahun, 35 ton TBS/ha/tahun. Rendemen CPO 25%. Artinya bisa 8,7 ton CPO/ha/tahun. Jika biaya Rp 30 juta/ha/tahun, indeks Rp 3.400/kg CPO. Laba banyak, jika harga CPO Rp 10.700/kg.
Otomatis daya tahan terhadap ancaman harga di pasar global beda sekali. Keberlanjutan usaha kebun sawit lebih terjamin jika memakai " Benih Inovasi ". Apalagi jika integrasi dengan sapi agar anggaran pupuk NPK kimia hanya 25% dari lazimnya, karena pupuk kandang diperkaya mikroba.
Dari 2 kisah di atas jelas menggambarkan sebuah perbedaan nyata antara non inovatif dengan yang mau menghilirisasikan hasil inovasi. Begitu juga unggas ayam, itik dan entok. Biasanya non inovasi hanya dapat anakan hanya 60 ekor/induk/tahun.
Karena memakai inovasi dari Balitnak bisa 3 kali lipatnya. Misal Ayam Kampung KUB 2 Janaka, Itik PMP atau TikTok silangan Betina PMP dengan Jantan Entok Jumbo. Seperti yang dituturkan oleh para Ahli Unggas semalam kami berkunjung yang luar biasa baik pelayanannya. Membanggakan.
Pendek kata dalam semboyan bisnis kekinian " Tinggal memilih, inovasi atau mati bisnisnya, karena kalah berkompetisi ".
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
