Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/22/menguji-rendah-hati-berbisnis/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Banyak perintis usaha (startup) belum rendah hati. Misal merasa pintar, merasa inovasinya paling hebat, modal banyak dan seterusnya. Intinya tinggi hati. Belum rendah hati. Itu biasanya terjadi karena belum pernah gagal, rugi, tertipu dan bangkrut.
Ke GR an dan sepele dengan yang lainnya. Bahkan seolah suksesnya yang masih belum seberapa dan masih ecek - ecek jadi pendongkrak kesombongannya. Sifat jelek tersebut akan berkurang berubah jadi dewasa matang. Setelah dagangannya tidak laku lalu cashflow terganggu.
Setelah tertipu lalu merugi dan setelah bangkrut lalu diremehkan masyarakat dan seterusnya. Baru sadar, bahwa tinemune ilmu kanthi laku/ketemunya ilmu bisnis jika sudah dijalani. Barulah ilmunya tambah, bukan hanya ilmu sembrono saja yang dipunya.
Setelah itu barulah mulai punya ilmu hati - hati dan waspada. Waseso, bijaksana. Menghargai lainnya, sadar doa restu orang tua adalah teramat bernilai dan terutama sadar bahwa semua kejadian lancar maupun tersendat tidak terlepas karena Tuhan YME.
Tiada satu pun pengusaha yang tanpa melewati ujian yang bernama gagal, tertipu, merugi dan bahkan ada juga yang bangkrut nilai asetnya di bawah kewajibannya. Proses filter tersebut " harus " dilalui. Harus dialami agar tahu rasanya. Agar tahu sebabnya.
Tentu harus tahu pula ilmu hikmahnya yang terkandung pada kejadian - kejadian tersebut. Selanjutnya " tahu ilmu " cara mengantisipasinya di kemudian hari. Agar minimal gagalnya. Itulah proses mematangkan diri agar makin bijak cerdas inovatif. Sehingga " jam terbang " berbisnis sangat penting.
Contoh ;
1. Seorang startup, pengusaha pemula. Sekitar setahun lalu zoom meeting dengan saya. Saya perhatikan tidak betah menahan susah. Maunya secepatnya sukses mengibarkan bendera nama besarnya. " Mata keranjang bisnis. " Diingatkan agar ketat kendaki cashflow tidak mau. Sekarang berdarah darah arus kasnya.
2. Seorang startup, merasa lulusan pascasarjana dapat warisan banyak. Saya sarankan hanya 30% dari dananya, jadi modal usahanya. Agar cepat tertipu, gagal, merugi yang nilainya tidak banyak tapi telah merasakan. Agar dapat ilmu hikmahnya. Tapi tidak mau. Semua dananya digelontor. Saat ini mumet berat.
3. Seorang startup, ke GR an punya inovasi hasil risetnya. Memang menyilaukan bagusnya. Didanai besar - besaran. Jumlah banyak, bahkan pabrik pun mulai dibangun. Saya ingatkan agar skala kecil dulu asal cashflow lancar. Cetak laba jadi modal usaha, jika sudah banyak barulah investasi. Sementara waktu sewa dulu tidak apa. Tapi tidak mau. Ujungnya produk tidak diserap pasar. Mumet dan malu.
Begitulah yang saya kisahkan ke para startup tadi dan 5 hari lalu saat saya mengajar kuliah umum entrepreneurship dan mentoring tumbuh kembangnya. Penting disadari startup bahwa rendah hati berbisnis mutlak. Proses ditipu, gagal jual dan merugi juga sangat penting agar segera " tahu diri lalu rendah hati ".
Pengalaman saya pribadi, 14 tahun lalu Bio Extrim, Organox dan Hormax. Berawal dari botol bekas Aqua. Lalu drum 200 liter. Lanjut 20.000 liter beberapa tangki. Diaduk pakai paralon, lalu dengan bor listrik dan saat ini blower besar seperti baling - baling kapal. Gudang sewa, lalu membangun pabrik sendiri. Hingga saat ini, jadi " Market Leader ". Idola para Petani.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
