Klik Play Untuk Menyaksikan Online TV Nusantara

MENCARI SOLUSI,PETANI MAKIN KERDIL

ADMIN MEDCOM DPP GAAS
0


 


Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/08/mencari-solusi-petani-makin-kerdil/


_Ilmu hikmah_



Wayan Supadno.



Sejak reformasi 1998, jika kita evaluasi saat ini 2023. Petani, ibaratnya anatomi makin kerdil dan ibarat faal/fisiologi petani makin disfungsional. Ini harus disadari bersama dan dicari solusi cepatnya. Indikasi kekerdilan petani makin nyata, di antaranya adalah ;


1. Keluarga Petani.


Terus menyusut jumlahnya hingga 0,51 juta KK/tahun, alih profesi. Kabur. Regenerasinya juga gagal, hanya 12% petani muda kita. Animo kawula muda studi di pertanian turun drastis dibanding sebelum reformasi. Semua ini ancaman serius.


Implikasinya, profesi petani bisa saja mendekati punah pada 30 tahun lagi. Pakar/ahli/ilmuwan/peneliti dan pemimpin ilmu pertanian juga akan sangat kurang. Akibat enggannya anak muda studi di pertanian. Rawan.


2. Daya Dukung Lahan.


Lahan luas syarat mutlak bisa sejahtera. Sekaligus sumber moril semangat bertani makin produktif. Faktanya sawah menyempit 110.000 ha/tahun (BPS). Indeks kepemilikan lahan hanya 0,3 ha/KK, ada 14 juta KK (Sensus Pertanian terakhir).


Dampak dari lahan 0,3 ha/KK. Kalau hanya ditanam padi jagung kedelai, harga mahal pun tetap tidak sejahtera. Solusinya hentikan bagi waris sawah. Cipta lapangan kerja industri hilir inovatif. Lahirkan Industriawan agro investornya.


Mutu lahan kunci produktivitas, laba dan sejahteranya petani. Faktanya lahan kita mengalami degradasi mutu. Indikasinya kadar C Organik turun dari 2,8% (1980) jadi 2% (2022), idealnya 4%. pH juga cenderung rendah masam.


Implikasi dari degradasi mutu lahan, laba jadi tipis bahkan bisa remis atau merugi. Karena biaya agro input pupuk pestisida besar. Solusinya harus ada kesadaran massal untuk diremediasi agar pH 7 dan C Organik 4%.


3. Daya Dukung Air.


Luas sawah kita 7,4 juta hektar. Tapi luas tanam padi hanya 10,6 juta hektar. Ini pertanda bahwa sawah kita belum bisa menanam padi 2 kali per tahunnya dalam sawah yang ada. Belum IP 200. Sebab utamanya karena kekurangan air dan irigasinya.  


Implikasinya jika ada air sepanjang tahun lalu bisa menanam 2 kali saja maka luas tanam padi kita 2 x 7,4 juta ha = 14,8 juta ha. Artinya " hilang kesempatan " menanam padi seluas 14,8 juta ha - 10,6 juta ha = 4,2 juta ha/tahun. Setara hilang beras 12 juta ton/tahun. 


Solusinya dibangun waduk bendungan dan revitalisasi irigasi teknis agar bisa menanam minimal 2 kali per tahun. Fakta lapangan sawah kita masih luas yang tadah hujan. Sebaliknya, kita masih banyak membuang air hingga ke laut tidak diberdayakan manfaatnya.


4. Daya Dukung Permodalan.


Data pencairan kredit investasi perbankan. Dari totalnya, hanya 6% yang ke sektor pertanian. Itu pun dominan ke sawit. Artinya volume dana swasta yang mengalir ke pertanian non sawit sangat rendah. Tidak bankable. Pertanda interest rate terlalu tinggi.


Padahal dinamisnya pembangunan idealnya minimal 80% berasal dari swasta dan maksimal 20% dari APBN/APBD. Jika rumus ini tidak terpenuhi pertanda kurang investor pelaku usaha. Pertanda pertanian pangan kurang peminatnya.


5. Daya Dukung Riset dan Inovasi.


Produktivitas padi kita hanya 5,4 ton GKP/ha. Vietnam 5,9 ton GKP/ha. Kita kalah. Padahal benih padi inovasi dari IPB University diklaim Rektor IPB University Prof. Satria bisa 12 ton GKP/ha. Ini pertanda hasil inovasi belum terhilirisasikan ke petani.


Implikasinya, kita kehilangan kesempatan besar sekali. Hanya 5,4 ton GKP/ha, mestinya bisa 7,4 ton GKP/ha. Selisih 2 ton/ha. Luas tanam kita 10,6 juta ha. Hilang kesempatan 2 ton x 10,6 juta ha = 21,2 juta ton GKP/tahun setara 12 juta ton beras/tahun.


Solusinya, semua hasil riset harus dihilirisasikan hingga menukik ke buminya petani. Bukan disimpan di lemari atau sebatas jurnal ilmiah saja. Ingat, riset berasal dari suara hati sanubari manusia dan berujung pada kemanfaatan bagi sesama manusia dan alam semestanya.



Padang, 8 Juni 2023. Penas ke XVI, KTNA.



Salam 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)
CEO INDONESIA NEWS