CEO GROUP | Kabupaten Bandung – Satgas Citarum Harum Sektor-1 melaksanakan kegiatan sosialisasi Program Citarum Harum terkait penanganan dan pemanfaatan kotoran sapi (kohe) kepada masyarakat Kecamatan Kertasari. Kegiatan berlangsung di Aula Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi, di antaranya Dansatgas Citarum Harum Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto, S.H., Dansektor-1 Citarum Harum Kolonel Infanteri Makmur Siagian, S.I.P., perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, KPBS Pangalengan, serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung.
Sosialisasi diikuti oleh unsur Forkopimcam Kertasari, kepala desa, perangkat kewilayahan, kelompok peternak sapi, pemilik ternak, serta masyarakat dari Desa Tarumajaya, Cikembang, dan Cibeureum.
Dalam sambutannya, Dansatgas Citarum Harum Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa kondisi Sungai Citarum saat ini masih menghadapi berbagai tantangan meskipun upaya pengendalian pencemaran telah menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Permasalahan di Citarum bukan hanya limbah industri, tetapi juga sampah dan limbah domestik yang mencemari aliran sungai. Saat ini kualitas air kembali mengalami penurunan setelah sebelumnya membaik. Puluhan pabrik telah dikenai tindakan penegakan hukum, namun masih banyak sumber pencemaran lain yang harus ditangani bersama,” ujarnya.
Menurut Yanto, salah satu sumber pencemaran yang masih menjadi perhatian adalah limbah peternakan, khususnya kotoran sapi yang belum dikelola secara optimal.
“Hampir setiap hari kotoran sapi dalam jumlah besar masuk ke aliran Sungai Citarum. Produksinya mencapai sekitar 300 ton per hari dan sekitar 70 persen di antaranya belum terolah dengan baik. Jika tidak dikelola, kondisi ini dapat berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pembuangan kotoran ternak langsung ke sungai dapat meningkatkan kadar pencemar organik yang menurunkan oksigen terlarut di perairan, sekaligus membawa berbagai bakteri patogen yang berbahaya bagi manusia dan ekosistem sungai.
Sementara itu, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Ima H., menyampaikan bahwa Kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra peternakan sapi terbesar di Jawa Barat, sehingga memiliki peran penting dalam upaya pengelolaan limbah peternakan.
Menurutnya, berbagai program telah dilakukan pemerintah untuk menangani limbah ternak, namun perubahan perilaku dan pola pikir peternak menjadi tantangan utama yang memerlukan kerja sama seluruh pihak.
“Kami telah melihat berbagai contoh keberhasilan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik yang mampu menghasilkan produk pertanian berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Karena itu, kami terus mendorong masyarakat agar memanfaatkan limbah ternak menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua KPBS Pangalengan, drh. H. Asep Kaetudin, mengatakan bahwa peternakan sapi perah merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Pangalengan dan Kertasari.
Ia menjelaskan bahwa limbah peternakan sesungguhnya memiliki potensi besar apabila dikelola dengan baik.
“Di sektor peternakan terdapat tiga potensi utama, yaitu emas putih berupa susu, emas merah berupa anak sapi, dan emas hijau berupa kotoran sapi. Kotoran sapi bukan lagi masalah, tetapi peluang ekonomi yang dapat diolah menjadi pupuk organik, biogas, biomassa, hingga budidaya cacing,” katanya.
Menurut Asep, pengelolaan kotoran sapi juga dapat membantu mengurangi emisi gas metana yang dihasilkan dari limbah ternak, sehingga turut berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan.
Dalam pemaparannya, Satgas Citarum Harum juga menjelaskan bahwa kualitas Sungai Citarum telah berangsur membaik dari kategori “cemar berat” pada periode 2018–2019 menjadi “cemar ringan” sejak tahun 2020 hingga 2025. Namun demikian, berbagai upaya pemulihan harus terus dilakukan agar target pemulihan sungai dapat tercapai.
Sebagai bagian dari solusi penanganan limbah peternakan, direncanakan pembangunan fasilitas pengelolaan limbah ternak berkapasitas 100 ton per pekan di Kampung Citawa, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mengurangi pencemaran sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis bagi masyarakat.
Menutup kegiatan, Dansatgas Citarum Harum mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Sungai Citarum dengan tidak membuang limbah ke sungai dan mulai mengelola kotoran ternak secara berkelanjutan.
“Mari kita ubah cara pandang terhadap kotoran sapi. Jika dikelola dengan baik, limbah ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Dari limbah menjadi berkah,” pungkasnya.***

